Wak Don, 54 Tahun Berjualan Es Doger
Jadi Saksi Para Pemangku Kepentingan
Kerja keras banting tulang dengan umur yang sudah mencapai sepertiga abad lebih tidak menyurutkan semangatnya demi mengais rupiah dan menafkahi keluarga. Bagi sebagian orang masa tua adalah masa untuk beristirahat dan berdiam diri di rumah, tapi tidak bagi Uwak Don yang dikenal berjualan Es Doger di Jalan Japaris atau yang sekarang di kenal Jalan Rahmadsyah.
Uwak Don mengungkapkan kalau hanya istirahat dan berdiam diri siapa yang akan memberikan nafkah kepada keluarganya. Uwak Don tidak mengenal yang namanya lelah dan letih, padahal jalannya sudah dengan badan membungkuk, langkahnya yang lambat dan mendorong gerobak yang sudah menjadi teman dekatnya puluhan tahun untuk mencari nafkah. Dari gerobak inilah Uwak Don bisa menyambung hidupnya. Lebatnya hujan dan teriknya matahari tidak menjadi penghalang untuk selalu bekerja untuk istri dan anak perempuan dan cucunya yang sampai sekarang masih menjadi tanggung jawabnya.
Lima puluh empat tahun yang lalu, pria renta bernama asli Boimin ini memulai pekerjaanya sebagai penjual Es Doger di depan SD Negeri No 060814 Jalan Japaris atau Jalan Rahmadsyah. Berpuluh tahun lalu Uwak Don menjual Es Dogernya dengan harga Rp 200-400 per bungkus. Penghasilan yang di dapat setiap harinya hanya 5000-9000 rupiah penghasilan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang Uwak Don lakukan. Namun, demi menafakahi keluarga yang sudah menjadi tanggung jawabnya, Uwak Don rela berjalan kaki rumahnya ke tempat Uwak Don berjualan. Ketika itu usinya masih muda dan mampu berjalan kaki mendorong gerobak Es Dogernya.
“Iya nak, saya bekerja sebagai penjual Es Doger di sini sudah 54 tahun waktu itu masih sangat sepi jalan ini dan hanya ada SD ini pada waktu itu. Penghasilan uwak waktu itu pas-pasan,” cerita Wak Don.
Uwak Don lahir pada tahun 1934. Ingatan Uwak Don penjajahan Belanda dan Jepang masih membekas dipikirannya. Sambil diwawancarai Uwak Don menyanyikan sedikit lagu berbahasa Jepang. Takjub dan kaget, kakek dengan umurnya yang sudah 82 tahun ini masih hapal lagu-lagu Jepang.
“Nanti kalau pulang di panggil tentara Jepang, ditanyai pandai menyanyi Jepang tidak. Uwak bilang pandai. Nyanyi lagu Jepang lah uwak di depan tentara Jepang. Di sekolah juga diajarkan bahasa Jepang, menghadap matahari setiap pagi,” ingat Uwak Don.
Agresi Belanda lah yang membuat Uwak Don berhenti sekolah karena berperang terus. Karena sekolah Uwak Don pada saat itu dekat dengan daerah peperangan, setiap hari ketika pergi sekolah harus tiarap ketika mendengar suara tembakan.
Uwak Don mulai menjual Es Doger setelah dipaksa pindah oleh abangnya dari Siantar ke Medan. Saat muda Uwak Don pernah menjadi tentara bantuan dan saat sedang bertugas di Rindam Siantar, karena terus berperang ia dipaksa pindah ke Medan oleh abangnya dan disuruh berjualan Es Doger.
“Uwak pada saat itu lagi beroperasi, tiba-tiba abang datang, bilang kasur, meja, kursi dan peralatan sudah dipindahkan ke Medan, uwak pindah ke Medan tahun 1960,” cerita Wak Don.
Di umurnya 28 tahun Uwak Don mulai berjualan Es Doger. Saat itu resep Es Doger di dapat dari abangnya, namun Uwak Don hingga kini tetap mempertahankan rasa Es Dogernya tanpa pemanis buatan atau sari manis.
“Pernah di tes BPOM. Es Doger Uwak hanya memakai gula asli, tape, cincau dan buah nangka serta pewarna makanan. Kalau yang pakai-pakai sari manis itu tidak boleh. Yang penting rasanya, rasanya asli,” jelas Uwak Don
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan bahkan tahun ke tahun pekerjaan berjualan Es Doger terus dijalaninya oleh Uwak Don. Tidak ada pekerjaan lain baginya selain berjualan Es Doger. Uwak Don menceritakan ia juga tidak bisa mencari kerja lain karena keterbatasan pendidikan dan modal.
Dengan pengahasilan pas-pasan yang Uwak Don harus mampu menghidupi keluarga besarnya dengan seorang istri dan empat orang anak laki-laki dan satu anak perempuan pada masa itu. Namun karena keihklasannya uang hasil jualannya berkah dan cukup untuk menghidupi keluarganya. Kerasnya hidup yang Uwak Don jalani dan ekonomi yang menghimpitnya mau tidak mau Uwak Don harus melakukan pekerjaan menjual Es Doger. Terkadang rasa malu dan minder selalu dirasakannya pada saat berjualan, namun demi menafkahi istri dan anaknya Uwak Don menjalani pekerjaanya dengan hati yang ikhlas dan selalu bersyukur dengan apa yang dijalaninya.
Seiring berjalannya waktu , dengan lika-liku hidup yang dijalan Uwak Don, istri pertama Uwak Don meninggal dunia. Dari sinilah semakin terasa kerasnya hidup yang dijalani oleh Uwak Don dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dengan menafkahi lima orang anaknya. Tidak ada jalan lain, lagi-lagi dengan berjualan Es Dogerlah Uwak Don mampu menghidupi lima buah hatinya.
Dengan keadaan yang demikian Uwak Don hanya bisa pasrah dengan keadaan, namun tidak menghilangkan rasa tanggung jawabnya setelah menikah kembali menafkahi istrinya dengan lima orang anaknya serta.
Kelima anak Uwak Don ada yang tidak selesai mengeyam pendidikan sampai bangku Sekolah menengah pertama (SMA), namun juga ada yang mampu menamatkan SMA dan SMEA, alasannya tidak lain yang diungkapkan Uwak Don yaitu keterbatasan ekonomi.
Ternyata dibalik kerasnya hidup yang diajalaninya, jatuh bangun banting tulang menafkahi keluarganya, Uwak Don juga adalah saksi kesuksesan petinggi-petinggi pemerintahan di Kota Medan. Sebut saja Samsyul Arifin adalah seorang mantan Gubernur Sumatera Utara.
“Dari dulu saya berjualan dari jamannya Samsyul Arifin kelas 1 SD, sampai jadi bupati, sampai jadi gubernur, saya masih disini saja, tidak kemana-mana. Tamatan SD yang dulu langganan Es Doger Uwak sekarang ada yang sudah jadi Brigjen, Kolonel, Anggoota Dewan, Pengacara, Brimob, Polisi, dll,” cerita Uwak Don.
Pendapatannya Uwak Don sendiri tidak pasti. Bagi Uwak Don yang namanya berjualan, kadang-kadang banyak, kadang-kadang sedikit, kadang-kadang rame, kadang-kadang sepi, kadang-kadang untung, kadang-kadang rugi.
“Kalau tidak berani rugi, tidak usah jualan. Tidak bisa dipastikan. Lihat cuaca juga, kadang kalau mau belanja hujan, sampai sini hujan,” ungkap Wak Don.
Dari tahun 1962 sampai sekarang Uwak Don berjualan setiap harinya masih bekerja sebagai penjual Es Doger di depan SD yang beberapa alumninya sekarang sudah menjadi pemangku kebijakan di negeri ini.
Dengan usia yang sangat renta itu Uwak Don masih mampu menjalani itu semua. Dia seperti tidak mengenal lelah dan selalu bersyukur atas apa yang dijalaninya. Meskipun setia harinya Uwak Don harus mendorong gerobak dengan berjalan kaki dari rumahnya gang Pergaulan Jalan Japaris. Panasnya terik matahari dan lebatnya hujan tidak menjadi penghambat dan penghalang Uwak Don demi mendapatkan rupiah. Padahal dengan usia yang sudah tidak muda lagi jalannya sudah membungkuk kedepan, ditambah mendorong gerobak tua Es Dogernya yang sudah senantiasa menemaninya saat bekerja.
Sekarang pak Ruslan menjual Es Dogernya harga dengan harga 1000-3000 rupiah perbungkus dan 5000-6000 rupiah pergelas. Apa yang diperoleh Uwak Don meskipun tidak terlalu besar nilanya Uwak Don selalu bersyukur. Uwak Don selalu berdoa selalu lancar, bisa menyimpan rezeki untuk dihari tua, yang penting dikasih kesehatan, dikasih kekuatan. Karena sehat itu nomor 1 kata Uwak Don. Ada satu keinginan yang di dambakan oleh Uwak Don yang sampai saat ini masih belum terwujud, dengan usia yang sudah tua dan pekerjaan yang tidak mendukung, tidak mungkin rasanya Uwak Don mampu mewujudukan apa yang menjadi keinginan dan cita-citanya tersebut. Keinginan Uwak Don adalah membangun rumah dan bisa mengganti gerobak Es Dogernya Uwak Don. Alisa Medina


Tidak ada komentar:
Posting Komentar