Rabu, 16 Maret 2016



BEASISWA LINTAS NEGARA BUKAN HANYA MIMPI 





Setelah menjadi sarjana ada beberapa orang yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2, terutama ke universitas di luar negeri. Namun,  ketidaktahuan banyak orang tentang apa-apa saja persyaratannya sering menjadi hambatan terwujudnya keinginan tersebut.

Untuk itu, Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris (IMSI) Fakultas Ilmu Budaya USU menyelenggarakan simposium yang diikuti para pelajar, mahasiswa dan kalangan umum. Dengan tema “Explore The Universe Scholarship Isn’t Just A Dream” simposium dilakasanakan di gedung serbaguna Prof T Amir Ridwan, Sabtu (25/4) pukul 09:00 – 15:00 wib.

Simposium ini menghadirkan tiga pemateri yaitu Mattew Lambert adalah Native Speaker dari Inggris, Drs Parlindungan Purba M Hum dosen bahasa Inggris, serta Christopher Joseph Marino adalah Native Speaker dari Amerika Serikat.

Acara dibuka resmi oleh ketua panitia simposium Muhammad Rafi. Ia mengatakan kegiatan ini bertujuan member gambaran kepada para pelajar, mahasiswa, serta bagi yang sudah bekerja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri jenjang S1, S2 atau S3 dan bagaimana bisa mendapatkan beasiswa luar negeri itu. Karena beasiswa luar negeri itu bukan sekedar mimpi, tetapi bisa di wujudkan dengan kerja keras dan terus belajar untuk memenuhi syarat-syarat setiap universitas luar negeri yang kita tuju,” ungkapnya.

Mattew Lambert pemateri pertama yang saat ini bekerja di British Council Indonesia Medan memaparkan alasan banyak orang yang bertanya kuliah ke luar negeri bukan untuk belajar Bahasa Inggris, tetapi kenapa harus dapat nilai bagus di TOEFL(The Test of English as a Foreign Language) atau IELTS ( International English Language Testing System) untuk  bisa diterima di univesitas luar negeri.

“Biasanya standar persyaratan masuk untuk diterima masuk ke universitas luar negeri adalah TOEFL dengan skor minimal 550 (paper based) atau IELTS dengan skor minimal 6.0. Nilai minimal yang diminta bisa lebih tinggi lagi jika anda ingin mengambil jurusan-jurusan seperti kedokteran, sastra dan hukum. Selain itu bukan hanya nilai
total yang dilihat. Setiap komponen tes, seperti listening, reading, speaking dan writing juga dipertimbangkan,” jelas Mattew.

Mattew mengatakan untuk dapat kuliah di universitas luar negeri mengapa perlu menunjukkan kelancaran berbahasa Inggris pelamar beasiswa  kepada universitas yaitu bahasa pengantar utama yang dipergunakan adalah Bahasa Inggris.

“Jika kuliah di luar negeri, sudah pasti bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, termasuk buku-buku pelajaran, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jika tingkat kemampuan Bahasa Inggris anda tidak cukup fasih dalam setiap komponen mendengar, memahami bacaan, percakapan dan menulis, bagaimana bisa mengikuti perkuliahan dengan baik?,” ungkapnya.

Mattew yang juga berprofesi sebagai guru ini menjelaskan selama mengikuti kelas perkuliahan, kemampuan mendengar sangatlah penting. Untuk mengerjakan tugas, kemampuan pemahaman bacaan dan menulis sangatlah diperlukan, karena untuk menyelesaikan tugas.

“Anda perlu mencari bahan pendukung dari buku pelajaran, artikel atau materi lainnya, kemudian menuangkan ide dan argumen Anda dalam Bahasa Inggris tertulis. Begitu juga sewaktu mengikuti kelas tutorial, dimana para mahasiswa akan berinteraksi dengan dosen. Baik untuk tanya jawab atau diskusi. Saat ini kemampuan mendengarkan dan berbicara tentunya sangat penting. Jika tidak mengerti pertanyaan, tentu saja tidak bisa menjawab. Jika mengerti pertanyaan tetapi tidak bisa mengungkapkan jawaban dalam Bahasa Inggris dengan baik, tentu saja akan mempengaruhi
nilai,” jelasnya.

Mattew memberikan tips untuk persiapan mengerjakan  IELTS yang setiap orang berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Tes IELTS ini terdiri dari 4 sesi, Listening, Reading, Writing, dan Speaking.


“Tentukan berapa lama kita akan menghabiskan waktu setiap harinya untuk latihan masing-masing sesi. Misalnya dalam seminggu kita akan menghabiskan waktu selama 3 jam untuk latihan listening, dst. Untuk Listening, kita bisa menonton film dan serial TV dalam bahasa inggris (baiknya tidak pakai subtitle), mendengarkan musik dalam bahasa
inggris.  Untuk Reading, kita bisa membaca berita atau majalah secara online maupun offline, membaca buku dalam bahasa inggris.  Untuk Writing, kita bisa menuliskan jurnal sehari-hari, menulis surat kepada orang luar negeri, membuat daftar hal-hal yang kita lihat setiap hari, membuat deskripsi mengenai keluarga dan kerabat tentunya dalam bahasa Inggris. Untuk Speaking, kita bisa mencoba berbincang/mendeskripsikan hal yang kita lihat, latihan speaking dengan teman,” jelasnya.

Selanjutnya, pemateri kedua disampaikan oleh Drs Parlindungan Purba M Hum. Ia memotivasi untuk luar negeri dengan beasiswa bukan mimpi yang mustahil.

“Beasiswa adalah mimpi besar yang dapat dicapai oleh siapa saja. Kesempatan selalu datang lebih dari sekali bagi mereka yang layak. Belajar di luar negeri tidak hanya akan mengajarkan Anda tentang diri Anda dan budaya lain, tetapi juga akan memberikan keuntungan setelah lulus. Jadi, persiapkan diri anda mulai sekarang agar memenuhi syarat-syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut,” jelas
Parlindungan.

Ia memaparkan beasiswa bisa didapat melalui program beasiswa lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) dan American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF). Beberapa persyaratan yang harus di penuhi oleh pelamar beasiswa luar negeri yaitu sarjan S1 dengan IPK minimal 3,0.

Mempunyai jiwa kepemimpinan yang berkualitas, mahamami dengan baik tentang kebudayaan Indonesia dan internasional, berkomitmen pada bidang studi pilihan dan bersedia untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan program beasiswanya serta skore minimal TOEFL adalah 550.

Pemateri terakhir disampaikan oleh Christopher Joseph Marino adalah Native Speaker dari Amerika Serikat. Ia membagikan tips untuk mendapatkan beasiswa pertama yaitu mempersiapkan diri untuk proses aplikasi. Sebagian besar aplikasi beasiswa lebih dari sekedar bentuk esai. Beberapa memerlukan transcipt nilai kuliah juga akan meminta surat rekomendasi. Dalam persiapan ini diperlukan surat rekomendasi dari seorang dosen. Yang kedua ikuti petunjuk. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan dalam mengikuti prosesnya, karena sekali salah aplikasinya akan sia-sia. Lalu jangan lupa terus cek perkembangan-perkembangan terbaru agar tidak ketinggalan info. Alisa Medina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar