Paradigma Berbangsa Lintas Generasi
KARAKTER MAHASISWA
HARUS TERUS DIBANGUN
"Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan"
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Medan mengadakan seminar nasional dengan tema “Paradigma Berbanga Lintas Generasi” di aula gedung Z Polmed, Selasa (16/6). Pemateri yang
dihadirkan dalam seminar tersebut adalah Kepala Balitbang Kota Medan Drs Hasan Basri MM serta alumni Polmed Faldo Maldini S Si M Res yang saat ini tengah menyelesaikan program S3 di Inggris.
Sebelum sampai ke sesi seminar beberapa kata sambutan disampaikan oleh ketua panitia kegiatan , presiden BEM Polmed M Zuhri, serta pembukaan resmi seminar oleh Wakil Direktur Siregar. Rangkaian kegiatan ini yaitu bedah buku, donor darah serta bekerja sama dengan yayasan
Thalasemia.
Presiden BEM Polmed mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta dan patriotism di kalangan mahasiswa, terlebih lagi bagi mahasiswa Polmed untuk membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Selain itu kegiatan ini sebagai penutup dari akhir periode masa jabatan BEM
Polmed. Pemateri pertama yaitu Kepala Balitbang Kota Medan Drs Hasan Basri.
Ia mengatakan masa depan bangsa Indonesia terancam suram akibat rendahnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda. Kian tahun, momentum peringatan Sumpah Pemuda yang menjadi awal lahirnya nasionalisme dikalangan pemuda semakin diabaikan.
“Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan. Pemuda seharusnya menjadi pelopor dalam membangun semangat perjuangan, tetapi justru kenyataannya kini justru jatuh ke jurang materialisme yang tak terkontrol,” jelasnya.
Sebutnya, saat ini anak muda sudah tidak peduli lagi dengan nilai sumpah pemuda dan pemahaman sejarah bangsa ini. Serta banyak pemuda Indonesia yang perlahan-lahan mulai meninggalkan kebudayaan Indonesia. Untuk itu Hasan mengemukakan 5 hal yang harus dibangun pemuda sekarang
agar dapat menjadi seorang pemimpin bangsa di masa depan.
Hasan mengatakan yang pertama yang harus dibangun adalah kompetensi kepribadian. Setidaknya karakter mahsaiswa harus lebih dahulu memulai menerapkan pada dirinya mempunyai pribadi yang disiplin, arif, dan berwibawa, beriman dan berakhlak.
“Kalau itu tidak dibangun yang lain tidak ada gunanya. Gunakan karakter itu untuk membangun diri kita,” jelasnya. Kedua bangun kapasitas intelektualitas. Intelektualitas pemuda adalah modal untuk melakukan perubahan. Ketiga pemuda jangan gagap teknologi. Untuk para pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dan akan memimpin Negara ini, para pemuda harus lebih giat belajar dan terus mancari ilmu tanpa mengenal lelah agar dapat mengahrumkan nama bangsa
Indonesia.
“Apalagi di jaman dimana perkembangan IPTEK sangan berkembang pesat sebagai pemuda harus bisa mengikuti perkembangan, jangan mau kita dibilang 'gaptek' atau gagap teknologi,” tegasnya.
Keempat pemuda harus membangun komunikasi. Sebagai seorang pemuda, kemampuan berkomunikasi menjadi hal penting yang harus dikuasai.
“Pasalnya, pemuda kelak menjadi pemimpin bangsa. Sayangnya, banyak pemuda yang justru memiliki masalah dalam hal berkomunikasi. Seringkali merasa tidak percaya diri dan gugup saat berhadapan dengan orang lain. Jantung berdenyut kencang, keringat bercucuran, dan merasa
gugup dalam berkomunikasi. Hal ini merupakan hal yang sering terjadi, apalagi saat bertemu dengan orang baru. Untuk itu latihlah cara kita berkomunikasi yang baik,” jelas Hasan.
Keenam adalah membangun kompetensi sosial. Hal ini dapat dimulai dengan membangun interaksi di antara sesama mahasiswa. “Interaksi yang dibangun dimulai dengan bermain hal-hal yang sederhana, misalnya saling mnghargai mahasiswa dari fakultas yang berbeda dalam berkegiatan tentunya didukung dengan kerendahan hati sehingga kompetensi sosialnya akan terbangun,” jelasnya.
Pemateri selanjutnya yaity Faldo Maldini S Si M Res. Mantan ketua BEM UI 2012 dan saat ini menjabat sebagai Presiden Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris mengatakan pentingnya pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam pemaparannya ia menyampaikan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan sosial (agent of social change) karena mahasiswa selaku insan akademis, dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial dimasyarakat.
“Sehingga sudah menjadi konsekuensi terhadap tuntutan dari seorang mahasiswa untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sebagai suatu kebutuhan pribadi dan masyarakat. Fungsi kontrol sosial yang dimiliki mahasiswa bagi pembangunan diharapkan mutlak demi kemajuan
pembangunan,” jelasnya.
Sebutnya, mahasiswa yang sudah mapan dalam berpikir, adalah mahasiswa yang tidak sekedar memikiran kepentingan akademis semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat.
“Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” tuturnya. Alisa Medina

Tidak ada komentar:
Posting Komentar