Rabu, 30 Maret 2016

Topiknya adalah konservasi satwa. Satwa langka semakin terancam punah,
penjualan satwa oleh oknum tidak bertanggung jawab seolah tak

terbendung. Di tambah hobi manusia mengkoleksi satwa langka dan
memelihara mereka untuk gengsi-gengsian. Bagaimana pendapatmu dan apa
yang akan kamu lakukan untukmelindungi satwa?


Mhd Faisal S Sinurat, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMSU

Kalaulah data-data diatas benar, pengawasannya sejauh mana sudah

dibuat lembaga konservasi satwa, saya tidak tahu secara pasti undang
undang soal perlindungan satwa ini memiliki efek hukum jera atau
tidak, sosialisasinya sudah sejauh mana perihal satwa yg tidak boleh
di pelihara. Pendapat saya apabila hal ini tidak di antisipasi secara
tegas pasti hewan langka akan punah, sosialisasi tentang pelindungan
satwa ini harus lebih di gencarkan melalui media, kita bisa merangkul
para pelaku seni untuk bisa membuat masyarakat lebih menaruh
perhatiannya pada keadaan ini.


Hal ini penting agar masyarakat lebih awas terhadap tindakan pemburuan

satwa. Namun, yang di sayangkan ada juga tokoh masyarakat terlibat
dalam hal ini. Kita tidak bisa membiarkan para pelaku yang memiliki
kekuatan materi untuk menjarah warisan alam kepada anak cucu kita di
masa depan, apalagi hal ini terjadi hanya untuk mengikuti tren dan
gengsinya untuk mendapat status sosial.


Mungkin yang bisa kita lakukan membuat brand atau slogan perihal

perlindungan satwa yang dilindungi di media sosial ini seperti
contohnya "anjing adalah teman bukan untuk di makan" yang dilakukan
para pecinta anjing saat ini.


Reza Aprilliandi Gultom, Mahasiswa Non-dik Kimia Unimed

Menurut saya, sangat tidak setuju dengan tindakan mengoleksi satwa

langka dengan alasan gengsi. Karena sangat mengancam jumlah populasi
satwa tersebut. Selain itu, apabila dipelihara secara berkepanjangan,
maka pola hidup satwa tersebut akan berubah. Bisa saja apabila
dilepaskan kembali kembali ke alam bebas hewan tersebut tidak lagi
mampu beradaptasi dengan alam liar. Bahkan mengalami kematian.


Akibat perubahan pola hidup yang terbiasa di dalam kandang itu. Pola

makan yang berubah, bahkan keadaan lingkungan yang berubah. Kemudian
masalah penanggulangan, yang diperlukan adalah peran penting
pemerintah di bidang terkait. Misalnya, untuk membantu pusat-pusat
konservasi.


Karena berdasarkan pengamatan saya, pusat konservasi sangat sedikit

yang dikelola oleh pemerintah, umumnya dikelola oleh pihak swasta dan
bahkan kebanyakan di Indonesia pusat konservasi itu dikelola oleh
pihak asing. Kemudian adanya penyuluhan-penyuluhan langsung kepada
masyarakat yang bertujuan mengajak masyarakat agar tidak memelihara
satwa-satwa langka dan menjaga kelestariannya.


Kemudian merevisi UU tentang pelanggaran-pelanggaran terhadap

satwa-satwa langka agar oknum-oknum yang menggunakan satwa-satwa
tersebut sebagai kepentingan pamer atau semacamnya menjadi jera.



Nazly Alfaroka Lubis, Mahasiswa Agribisnis USU


Indonesia masih lemah dalam perlindungan satwa langka, masih banyak

oknum yang tak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan dirinya
sendiri dengan melakukan perburuan hewan langka yang kemudian
diperdagangkan maupun dipelihara sendiri demi 'gengsi' semata.


Perilaku manusia yang seperti itulah yang menyebabkan langkanya

spesies hewan ini. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan
juga menyebabkan hewan-hewan tidak memiliki habitat asli sehingga
spesies di alam semesta berkurang.


Maka menurut saya,  perlu usaha pelestarian binatang langka di antaranya :

Memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya kelestarian binatang
langka, mendukung setiap aktivitas pelestarian binatang langka yang
dilakukan oleh lembaga pelestarian lingkungan, membuat tempat
penangkaran bagi hewan-hewan langka agar bisa berkembang biak untuk
selanjutnya melepas mereka ke alam bebas, tidak melakukan perburuan
binatang langka dan melaporkan setiap aktivitas perburuan binatang
langka tersebut kepada pihak berwajib. Tidak melakukan transaksi atas
binatang langka, terutama binatang hidup.




Pujie Wijayanti, Mahasiswa Sistem Informasi STMIK Triguna Dharma
Sangat ironis sekali kalau ada orang yang memelihara hewan langka yang
hampir punah hanya untuk gengsi-gengsian atau semacamnya. Terlebih
lagi mereka jelas-jelas tau kalau hewan-hewan itu di lindungi karena
hampir punah. Apalagi bahkan ada yang sampai menjualnya.
Kan itu sama saja kita merenggut kebebasannya untuk hidup di alam
bebas dan berkembang biak. Harusnya pemerintah dan masyarakat bisa
lebih peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan satwa langka, yang
di anggap sepela oleh sebagian orang.


Karena hal sepela seperti ini jika dibiarkan akan menjadi masalah

besar. Bukankah satwa-satwa langka itu juga ciptaan Tuhan seperti kita
 manusia. Jadi sudah sewajarnya jika kita juga peduli kepada sesama
ciptaan Tuhan.





Laporan Alisa Medina
                   
Stigma Islam Sebagai Teroris Karena Ketidakpahaman

INDONESIA KECIPRATAN TUDUHAN AMERIKA



       Mahasiswa stambuk 2012 departemen Antropologi Fisip USU bekerja sama dengan Badan Kesbangpolimnas Sumut mengadakan Seminar Nasional Antropologi Sosial dengan tema “Islam dan Stigma Teroris” yang dilaksanakan pada Kamis (28/5) di gedung B magister Fisip USU. Pemateri seminar tersebut adalah Prof Ronald Lukens Bull Ph D seorang guru besar Antropologi dari Universitas North Florida dan Prof Usman Pelly Ph D seorang Antropolog Unimed.
Pemateri pertama seminar di buka oleh Ronal Lukens Bull. Ia mengutarakan setelah serangan 11 September 2001 seorang sosiolog Samuel Huntington mengatakan bahwa masyarakat kini mengidentifikasikan diri mereka pada keleluhuran, agama, bahasa, sejarah, nilai. Masyarakat lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok budaya (etnisitas), dan pada level yang lebih luas yaitu peradaban.
Ia mengatakan masyarakat Amerika Serikat tidak memandang semua orang Islam itu adalah teroris, tetapi hampir semua yang menjadi teroris adalah muslim. Menurutnya stigma tersebut muncul karena kurangnya mengenal satu sama lain.
“Di Amerika yang bermasalah bukan Islam, tetapi di Amerika Serikat Islam itu sedikit sehingga masyarakat disana pun tidak mengenal Islam, akhirnya stigma itu muncul akibat tidak adanya pemahaman dan pendekatan terhadap Islam,” jelasnya.
Pemateri kedua disampaikan oleh Prof Usman Pelly Ph D Antropolog Unimed. Ia menutarakan beberapa kejadian yang melahirkan terorisme internasional.
Amerika Serikat pada penghujung abad XX memenangkan Perang Dingin. Lalu Uni Soviet pecah menjadi Negara-negara etnik dan meninggalkan Rusia sebagai induknya. Setelah itu AS menjadi the sole super power atau Negara adidaya tunggal dan polisi dunia yang berkuasa penuh. Negara-negara Eropa Barat, Jepang, dan Australia merasa ikut sebagai pemenang. Sebelum perang dunia I AS dikenal sebagai polisi bajak laut, yang menggganas di laut Mediterania dan laut Hindia. Setelah Perang Dunia II menjadi Polisi Dunia untuk memerangi Teroris.Huntington (sosiolog) memperkenalkan dua musuh baru Amerika Serikat : Islam dan China. Nampaknya Amerika Serikat terdorong lebih dahulu untuk menghidupi islam, dengan menginvasi Irak dan Negara Timur Tengah lainnya sekaligus untuk menguasai minyak bumi dunia.
Awal mula permusuhan Amerika Serikat dan Islam. Amerika Serikat mulai menyingkirkan Taliban dan Al Qaida yang dipimpin oleh Osama bin Laden, sekutunya dalam perang mengusir Uni Soviet di Afganistan. Peristiwa 11 September 2001, peledakan WTC merupakan puncak perlawanan Al Qaida. Satu dekade kemudian terjadi pembunuhan Osama bin Laden yang merupakan titik balik pembalasan AS. Terorisme, jihad dan fundamentalisme Islam mencuat dari permusuhan antara Al Qaida dan Amerika Serikat.
“Ini awal stigma sosial yang diletakkan pada Islam. Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan masalah teroris Osama, tetapi kejipratan dampak steriotiping dan dituduh AS terlibat dalam jaringan teroris,” ungkapnya.
Sebutnya, Islam identik dengan kekerasan, terorisme, fundamentalisme, radikalisme, dan sebagainya. Stigmatisasi ini seakan membenarkan pandangan beberapa pemikir Barat yang berpandangan Islam sebagai ancaman pasca-runtuhnya Soviet,
“Pemboman Bali 12 Oktober 2002 setahun setelah pemboman WTC New York dan berbagai peristiwa lainnya, seakan memperkuat tuduhan bahwa Indonesia memang terkait dengan terorisme. Pemerintah menyatakan terorisme sebagai extra ordinary crimes (kejahatan kekerasan yang luar biasa) mengeluarkan Perpu No. 2/2002 dan kemudian ditingkatkan menjadi UU No. 16/2003,” jelasnya.
Usman Pelly mengatakan usaha membuat Arab Spring di desain oleh barat  agar Islam di Timur Tengah menjadi Islam yang modern.
“Benturan antara Islam dan Demokrasi Barat dapat menghasilkan konsep demokrasi baru yang tidak di dominasi oleh nilai-nilai Amerika dan nilai-nilai feodal masyarakat setempat. Selalu kita mencari cara bagaimana demokrasi terbaik di Indonesia,” jelasnya.

Doktrin dan pemahaman doktrin
Usman Pelly mengatakan orang digerakkan untuk melakukan  sesuatu bukan murni dari doktrin resmi agama, tetapi dari apa yang dipahami mereka doktrin agama itu termasuk terorisme.
“Apa yang dipahami mereka bertindak sesuai doktrin agama itu. Kita tahu kasus ibu rumah tangga yang bergabung bersama ISIS. Apa yang dipahaminya menuntutnya agar berbuat seperti itu,” jelasnya.
Untuk itu orangtua, pemerintah, masyarakat harus berusaha mengetahui pemahaman doktrin agama atau ideologi yang diterima anak atau murid/mahasiswa. Orangtua dan pemerintah berkewajiban untuk meluruskan atau menetralisir “pelencengan “ makna dari nilai-nilai doktrin agama yang dimilikinya.
”Orangtua harus mencurigai apabila remajanya menghilang dari rumah atau sekolah atau sering bolos kuliah. Agar tak dicurigai terikut Brain washing atau usaha untuk mencuci otak siapa saja,” tegasnya.
Kearifan budaya Indonesia tidak sesuai dengan teroris
Usman Pelly mengatakan teroris di Indonesia sulit berkembang bisa dilihat dari pemberontakan DI/TII tetapi juga sulit mempersatukan karena faktor lingkungan dan multikultural.
“Islam Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam adalah Islam Moderat yang menyatu dengan budaya bangsa-bangsanya. Stigma teroris sebagai label yang diberikan sementara pihak karena ingin menyudutkan kelompok Islam tertentu di Indonesia,” pungkasnya. Alisa Medina

Rabu, 16 Maret 2016



BEASISWA LINTAS NEGARA BUKAN HANYA MIMPI 





Setelah menjadi sarjana ada beberapa orang yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2, terutama ke universitas di luar negeri. Namun,  ketidaktahuan banyak orang tentang apa-apa saja persyaratannya sering menjadi hambatan terwujudnya keinginan tersebut.

Untuk itu, Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris (IMSI) Fakultas Ilmu Budaya USU menyelenggarakan simposium yang diikuti para pelajar, mahasiswa dan kalangan umum. Dengan tema “Explore The Universe Scholarship Isn’t Just A Dream” simposium dilakasanakan di gedung serbaguna Prof T Amir Ridwan, Sabtu (25/4) pukul 09:00 – 15:00 wib.

Simposium ini menghadirkan tiga pemateri yaitu Mattew Lambert adalah Native Speaker dari Inggris, Drs Parlindungan Purba M Hum dosen bahasa Inggris, serta Christopher Joseph Marino adalah Native Speaker dari Amerika Serikat.

Acara dibuka resmi oleh ketua panitia simposium Muhammad Rafi. Ia mengatakan kegiatan ini bertujuan member gambaran kepada para pelajar, mahasiswa, serta bagi yang sudah bekerja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri jenjang S1, S2 atau S3 dan bagaimana bisa mendapatkan beasiswa luar negeri itu. Karena beasiswa luar negeri itu bukan sekedar mimpi, tetapi bisa di wujudkan dengan kerja keras dan terus belajar untuk memenuhi syarat-syarat setiap universitas luar negeri yang kita tuju,” ungkapnya.

Mattew Lambert pemateri pertama yang saat ini bekerja di British Council Indonesia Medan memaparkan alasan banyak orang yang bertanya kuliah ke luar negeri bukan untuk belajar Bahasa Inggris, tetapi kenapa harus dapat nilai bagus di TOEFL(The Test of English as a Foreign Language) atau IELTS ( International English Language Testing System) untuk  bisa diterima di univesitas luar negeri.

“Biasanya standar persyaratan masuk untuk diterima masuk ke universitas luar negeri adalah TOEFL dengan skor minimal 550 (paper based) atau IELTS dengan skor minimal 6.0. Nilai minimal yang diminta bisa lebih tinggi lagi jika anda ingin mengambil jurusan-jurusan seperti kedokteran, sastra dan hukum. Selain itu bukan hanya nilai
total yang dilihat. Setiap komponen tes, seperti listening, reading, speaking dan writing juga dipertimbangkan,” jelas Mattew.

Mattew mengatakan untuk dapat kuliah di universitas luar negeri mengapa perlu menunjukkan kelancaran berbahasa Inggris pelamar beasiswa  kepada universitas yaitu bahasa pengantar utama yang dipergunakan adalah Bahasa Inggris.

“Jika kuliah di luar negeri, sudah pasti bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, termasuk buku-buku pelajaran, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jika tingkat kemampuan Bahasa Inggris anda tidak cukup fasih dalam setiap komponen mendengar, memahami bacaan, percakapan dan menulis, bagaimana bisa mengikuti perkuliahan dengan baik?,” ungkapnya.

Mattew yang juga berprofesi sebagai guru ini menjelaskan selama mengikuti kelas perkuliahan, kemampuan mendengar sangatlah penting. Untuk mengerjakan tugas, kemampuan pemahaman bacaan dan menulis sangatlah diperlukan, karena untuk menyelesaikan tugas.

“Anda perlu mencari bahan pendukung dari buku pelajaran, artikel atau materi lainnya, kemudian menuangkan ide dan argumen Anda dalam Bahasa Inggris tertulis. Begitu juga sewaktu mengikuti kelas tutorial, dimana para mahasiswa akan berinteraksi dengan dosen. Baik untuk tanya jawab atau diskusi. Saat ini kemampuan mendengarkan dan berbicara tentunya sangat penting. Jika tidak mengerti pertanyaan, tentu saja tidak bisa menjawab. Jika mengerti pertanyaan tetapi tidak bisa mengungkapkan jawaban dalam Bahasa Inggris dengan baik, tentu saja akan mempengaruhi
nilai,” jelasnya.

Mattew memberikan tips untuk persiapan mengerjakan  IELTS yang setiap orang berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Tes IELTS ini terdiri dari 4 sesi, Listening, Reading, Writing, dan Speaking.


“Tentukan berapa lama kita akan menghabiskan waktu setiap harinya untuk latihan masing-masing sesi. Misalnya dalam seminggu kita akan menghabiskan waktu selama 3 jam untuk latihan listening, dst. Untuk Listening, kita bisa menonton film dan serial TV dalam bahasa inggris (baiknya tidak pakai subtitle), mendengarkan musik dalam bahasa
inggris.  Untuk Reading, kita bisa membaca berita atau majalah secara online maupun offline, membaca buku dalam bahasa inggris.  Untuk Writing, kita bisa menuliskan jurnal sehari-hari, menulis surat kepada orang luar negeri, membuat daftar hal-hal yang kita lihat setiap hari, membuat deskripsi mengenai keluarga dan kerabat tentunya dalam bahasa Inggris. Untuk Speaking, kita bisa mencoba berbincang/mendeskripsikan hal yang kita lihat, latihan speaking dengan teman,” jelasnya.

Selanjutnya, pemateri kedua disampaikan oleh Drs Parlindungan Purba M Hum. Ia memotivasi untuk luar negeri dengan beasiswa bukan mimpi yang mustahil.

“Beasiswa adalah mimpi besar yang dapat dicapai oleh siapa saja. Kesempatan selalu datang lebih dari sekali bagi mereka yang layak. Belajar di luar negeri tidak hanya akan mengajarkan Anda tentang diri Anda dan budaya lain, tetapi juga akan memberikan keuntungan setelah lulus. Jadi, persiapkan diri anda mulai sekarang agar memenuhi syarat-syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut,” jelas
Parlindungan.

Ia memaparkan beasiswa bisa didapat melalui program beasiswa lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) dan American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF). Beberapa persyaratan yang harus di penuhi oleh pelamar beasiswa luar negeri yaitu sarjan S1 dengan IPK minimal 3,0.

Mempunyai jiwa kepemimpinan yang berkualitas, mahamami dengan baik tentang kebudayaan Indonesia dan internasional, berkomitmen pada bidang studi pilihan dan bersedia untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan program beasiswanya serta skore minimal TOEFL adalah 550.

Pemateri terakhir disampaikan oleh Christopher Joseph Marino adalah Native Speaker dari Amerika Serikat. Ia membagikan tips untuk mendapatkan beasiswa pertama yaitu mempersiapkan diri untuk proses aplikasi. Sebagian besar aplikasi beasiswa lebih dari sekedar bentuk esai. Beberapa memerlukan transcipt nilai kuliah juga akan meminta surat rekomendasi. Dalam persiapan ini diperlukan surat rekomendasi dari seorang dosen. Yang kedua ikuti petunjuk. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan dalam mengikuti prosesnya, karena sekali salah aplikasinya akan sia-sia. Lalu jangan lupa terus cek perkembangan-perkembangan terbaru agar tidak ketinggalan info. Alisa Medina
Paradigma Berbangsa Lintas Generasi

KARAKTER MAHASISWA 
HARUS TERUS DIBANGUN 


"Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan"



Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Medan mengadakan seminar nasional dengan tema “Paradigma Berbanga Lintas Generasi” di aula gedung Z Polmed, Selasa (16/6). Pemateri yang
dihadirkan dalam seminar tersebut adalah Kepala Balitbang Kota Medan Drs Hasan Basri MM serta alumni Polmed Faldo Maldini S Si M Res yang saat ini tengah menyelesaikan program S3 di Inggris.

Sebelum sampai ke sesi seminar beberapa kata sambutan disampaikan oleh ketua panitia kegiatan , presiden BEM Polmed M Zuhri, serta pembukaan resmi seminar oleh Wakil Direktur Siregar. Rangkaian kegiatan ini yaitu bedah buku, donor darah serta bekerja sama dengan yayasan
Thalasemia. 

Presiden BEM Polmed mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta dan patriotism di kalangan mahasiswa, terlebih lagi bagi mahasiswa Polmed untuk membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Selain itu kegiatan ini sebagai penutup dari akhir periode masa jabatan BEM
Polmed. Pemateri pertama yaitu Kepala Balitbang Kota Medan Drs Hasan Basri.

Ia mengatakan masa depan bangsa Indonesia terancam suram akibat rendahnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda. Kian tahun, momentum peringatan Sumpah Pemuda yang menjadi awal lahirnya nasionalisme dikalangan pemuda semakin diabaikan.

“Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan. Pemuda seharusnya menjadi pelopor dalam membangun semangat perjuangan, tetapi justru kenyataannya kini justru jatuh ke jurang materialisme yang tak terkontrol,” jelasnya.

Sebutnya, saat ini anak muda sudah tidak peduli lagi dengan nilai sumpah pemuda dan pemahaman sejarah bangsa ini. Serta banyak pemuda Indonesia yang perlahan-lahan mulai meninggalkan kebudayaan Indonesia. Untuk itu Hasan mengemukakan 5 hal yang harus dibangun pemuda sekarang
agar dapat menjadi seorang pemimpin bangsa di masa depan.

Hasan mengatakan yang pertama yang harus dibangun adalah kompetensi kepribadian. Setidaknya karakter mahsaiswa harus lebih dahulu memulai menerapkan pada dirinya mempunyai pribadi yang disiplin, arif, dan berwibawa, beriman dan berakhlak.


“Kalau itu tidak dibangun yang lain tidak ada gunanya. Gunakan karakter itu untuk membangun diri kita,” jelasnya. Kedua bangun kapasitas intelektualitas. Intelektualitas pemuda adalah modal untuk melakukan perubahan. Ketiga pemuda jangan gagap teknologi. Untuk para pemuda yang akan melanjutkan perjuangan dan akan memimpin Negara ini, para pemuda harus lebih giat belajar dan terus mancari ilmu tanpa mengenal lelah agar dapat mengahrumkan nama bangsa
Indonesia.

“Apalagi di jaman dimana perkembangan IPTEK sangan berkembang pesat sebagai pemuda harus bisa mengikuti perkembangan, jangan mau kita dibilang 'gaptek' atau gagap teknologi,” tegasnya.

Keempat pemuda harus membangun komunikasi. Sebagai seorang pemuda, kemampuan berkomunikasi menjadi hal penting yang harus dikuasai.
“Pasalnya, pemuda kelak menjadi pemimpin bangsa. Sayangnya, banyak pemuda yang justru memiliki masalah dalam hal berkomunikasi. Seringkali merasa tidak percaya diri dan gugup saat berhadapan dengan orang lain. Jantung berdenyut kencang, keringat bercucuran, dan merasa
gugup dalam berkomunikasi. Hal ini merupakan hal yang sering terjadi, apalagi saat bertemu dengan orang baru. Untuk itu latihlah cara kita berkomunikasi yang baik,” jelas Hasan.


Keenam adalah membangun kompetensi sosial. Hal ini dapat dimulai dengan membangun interaksi di antara sesama mahasiswa. “Interaksi yang dibangun dimulai dengan bermain hal-hal yang sederhana, misalnya saling mnghargai mahasiswa dari fakultas yang berbeda dalam berkegiatan tentunya didukung dengan kerendahan hati sehingga kompetensi sosialnya akan terbangun,” jelasnya.

Pemateri selanjutnya yaity Faldo Maldini S Si M Res. Mantan ketua BEM UI 2012 dan saat ini menjabat sebagai Presiden Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris mengatakan pentingnya pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Dalam pemaparannya ia menyampaikan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan sosial (agent of social change) karena mahasiswa selaku insan akademis, dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial dimasyarakat.

“Sehingga sudah menjadi konsekuensi terhadap tuntutan dari seorang mahasiswa untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sebagai suatu kebutuhan pribadi dan masyarakat. Fungsi kontrol sosial yang dimiliki mahasiswa bagi pembangunan diharapkan mutlak demi kemajuan
pembangunan,” jelasnya.

Sebutnya, mahasiswa yang sudah mapan dalam berpikir, adalah mahasiswa yang tidak sekedar memikiran kepentingan akademis semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas  hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat.

“Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” tuturnya. Alisa Medina
Wak Don, 54 Tahun Berjualan Es Doger
Jadi Saksi Para Pemangku Kepentingan


Kerja keras banting tulang dengan umur yang sudah mencapai sepertiga abad lebih tidak menyurutkan semangatnya demi mengais rupiah dan menafkahi keluarga. Bagi sebagian orang masa tua adalah masa untuk beristirahat dan berdiam diri di rumah, tapi tidak bagi Uwak Don yang dikenal berjualan Es Doger di Jalan Japaris atau yang sekarang di kenal Jalan Rahmadsyah.

Uwak Don mengungkapkan kalau hanya istirahat dan berdiam diri siapa yang akan memberikan nafkah kepada keluarganya. Uwak Don tidak mengenal yang namanya lelah dan letih, padahal jalannya sudah dengan badan membungkuk, langkahnya yang lambat dan mendorong gerobak yang sudah menjadi teman dekatnya puluhan tahun untuk mencari nafkah. Dari gerobak inilah Uwak Don bisa menyambung hidupnya. Lebatnya hujan dan teriknya matahari tidak menjadi penghalang untuk selalu bekerja untuk istri dan anak perempuan dan cucunya yang sampai sekarang masih menjadi tanggung jawabnya.

Lima puluh empat tahun yang lalu, pria renta bernama asli Boimin ini memulai pekerjaanya sebagai penjual Es Doger di depan SD Negeri No 060814 Jalan Japaris atau Jalan Rahmadsyah. Berpuluh tahun lalu Uwak Don menjual Es Dogernya dengan harga  Rp 200-400  per bungkus. Penghasilan yang di dapat setiap harinya hanya 5000-9000 rupiah penghasilan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang Uwak Don lakukan. Namun, demi menafakahi keluarga yang sudah menjadi tanggung jawabnya, Uwak Don rela berjalan kaki rumahnya ke tempat Uwak Don berjualan. Ketika itu usinya masih muda dan mampu berjalan kaki mendorong gerobak Es Dogernya.

“Iya nak, saya bekerja sebagai penjual Es Doger di sini sudah 54 tahun waktu itu masih sangat sepi jalan ini dan hanya ada SD ini pada waktu itu. Penghasilan uwak waktu itu pas-pasan,” cerita Wak Don.

Uwak Don lahir pada tahun 1934. Ingatan Uwak Don penjajahan Belanda dan Jepang masih membekas dipikirannya. Sambil diwawancarai Uwak Don menyanyikan sedikit lagu berbahasa Jepang. Takjub dan kaget, kakek dengan umurnya yang sudah 82 tahun ini masih hapal lagu-lagu Jepang. 

“Nanti kalau pulang di panggil tentara Jepang, ditanyai pandai menyanyi Jepang tidak. Uwak bilang pandai. Nyanyi lagu Jepang lah uwak di depan tentara Jepang. Di sekolah juga diajarkan bahasa Jepang, menghadap matahari setiap pagi,” ingat Uwak Don.

Agresi Belanda lah yang membuat Uwak Don berhenti sekolah karena berperang terus. Karena sekolah Uwak Don pada saat itu dekat dengan daerah peperangan, setiap hari ketika pergi sekolah harus tiarap ketika mendengar suara tembakan. 

Uwak Don mulai menjual Es Doger setelah dipaksa pindah oleh abangnya dari Siantar ke Medan. Saat muda Uwak Don pernah menjadi tentara bantuan dan saat sedang bertugas di Rindam Siantar, karena terus berperang ia dipaksa pindah ke Medan oleh abangnya dan disuruh berjualan Es Doger.

“Uwak pada saat itu lagi beroperasi, tiba-tiba abang datang, bilang kasur, meja, kursi dan peralatan sudah dipindahkan ke Medan, uwak pindah ke Medan tahun 1960,” cerita Wak Don.

 Di umurnya 28 tahun Uwak Don mulai berjualan Es Doger. Saat itu resep Es Doger di dapat dari abangnya, namun Uwak Don hingga kini tetap mempertahankan rasa Es Dogernya tanpa pemanis buatan atau sari manis.

“Pernah di tes BPOM. Es Doger Uwak hanya memakai gula asli, tape, cincau dan buah nangka serta pewarna makanan. Kalau yang pakai-pakai sari manis itu tidak boleh. Yang penting rasanya, rasanya asli,” jelas Uwak Don

Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan bahkan tahun ke tahun pekerjaan berjualan Es Doger terus dijalaninya oleh Uwak Don. Tidak ada pekerjaan lain baginya selain berjualan Es Doger. Uwak Don menceritakan ia juga tidak bisa mencari kerja lain karena keterbatasan pendidikan dan modal.

Dengan pengahasilan pas-pasan yang Uwak Don harus mampu menghidupi keluarga besarnya dengan seorang istri dan empat orang anak laki-laki dan satu anak perempuan pada masa itu. Namun karena keihklasannya uang hasil jualannya berkah dan cukup untuk menghidupi keluarganya. Kerasnya hidup yang Uwak Don jalani dan ekonomi yang menghimpitnya mau tidak mau Uwak Don harus melakukan pekerjaan menjual Es Doger. Terkadang rasa malu dan minder selalu dirasakannya pada saat berjualan, namun demi menafkahi istri dan anaknya Uwak Don menjalani pekerjaanya dengan hati yang ikhlas dan selalu bersyukur dengan apa yang dijalaninya.

Seiring berjalannya waktu , dengan lika-liku hidup yang dijalan Uwak Don, istri pertama Uwak Don meninggal dunia. Dari sinilah semakin terasa kerasnya hidup yang dijalani oleh Uwak Don dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dengan menafkahi lima orang anaknya. Tidak ada jalan lain, lagi-lagi dengan berjualan Es Dogerlah Uwak Don mampu menghidupi lima buah hatinya.

Dengan keadaan yang demikian Uwak Don hanya bisa pasrah dengan keadaan, namun tidak menghilangkan rasa tanggung jawabnya setelah menikah kembali menafkahi istrinya dengan lima orang anaknya serta.

Kelima anak Uwak Don ada yang tidak selesai mengeyam pendidikan sampai bangku Sekolah menengah pertama (SMA), namun juga ada yang mampu menamatkan SMA dan SMEA, alasannya tidak lain yang diungkapkan Uwak Don yaitu keterbatasan ekonomi.

Ternyata dibalik kerasnya hidup yang diajalaninya, jatuh bangun banting tulang menafkahi keluarganya,  Uwak Don juga adalah saksi kesuksesan petinggi-petinggi pemerintahan di Kota Medan. Sebut saja Samsyul Arifin  adalah seorang mantan Gubernur Sumatera Utara.

“Dari dulu saya berjualan dari jamannya Samsyul Arifin kelas 1 SD, sampai jadi bupati, sampai jadi gubernur, saya masih disini saja,  tidak kemana-mana. Tamatan SD yang dulu langganan Es Doger Uwak sekarang ada yang sudah jadi Brigjen, Kolonel, Anggoota Dewan, Pengacara, Brimob, Polisi, dll,” cerita Uwak Don.

Pendapatannya Uwak Don sendiri tidak pasti. Bagi Uwak Don yang namanya berjualan, kadang-kadang banyak, kadang-kadang sedikit, kadang-kadang rame, kadang-kadang sepi, kadang-kadang untung, kadang-kadang rugi.

“Kalau tidak berani rugi, tidak usah jualan. Tidak bisa dipastikan. Lihat cuaca juga, kadang kalau mau belanja hujan, sampai sini hujan,” ungkap Wak Don.

Dari tahun 1962 sampai sekarang Uwak Don berjualan setiap harinya masih bekerja sebagai penjual Es Doger di depan SD yang beberapa alumninya sekarang sudah menjadi pemangku kebijakan di negeri ini.

Dengan usia yang sangat renta itu Uwak Don masih mampu menjalani itu semua. Dia seperti tidak mengenal lelah dan selalu bersyukur atas apa yang dijalaninya. Meskipun setia harinya Uwak Don harus mendorong gerobak dengan berjalan kaki dari rumahnya gang Pergaulan Jalan Japaris. Panasnya terik matahari dan lebatnya hujan tidak menjadi penghambat dan penghalang Uwak Don  demi mendapatkan rupiah. Padahal dengan usia yang sudah tidak muda lagi jalannya sudah membungkuk kedepan, ditambah mendorong gerobak tua Es Dogernya yang sudah senantiasa menemaninya saat bekerja.

Sekarang pak Ruslan menjual Es Dogernya harga dengan harga 1000-3000 rupiah perbungkus dan 5000-6000 rupiah pergelas. Apa yang diperoleh Uwak Don meskipun tidak terlalu besar nilanya Uwak Don selalu bersyukur. Uwak Don selalu berdoa selalu lancar, bisa menyimpan rezeki untuk dihari tua, yang penting dikasih kesehatan, dikasih kekuatan. Karena sehat itu nomor 1 kata Uwak Don. Ada satu keinginan yang di dambakan oleh Uwak Don yang sampai saat ini masih belum terwujud, dengan usia yang sudah tua dan pekerjaan yang tidak mendukung, tidak mungkin rasanya Uwak Don mampu mewujudukan apa yang menjadi keinginan dan cita-citanya tersebut. Keinginan Uwak Don adalah membangun rumah dan bisa mengganti gerobak Es Dogernya Uwak Don. Alisa Medina