Rabu, 30 Maret 2016

                   
Stigma Islam Sebagai Teroris Karena Ketidakpahaman

INDONESIA KECIPRATAN TUDUHAN AMERIKA



       Mahasiswa stambuk 2012 departemen Antropologi Fisip USU bekerja sama dengan Badan Kesbangpolimnas Sumut mengadakan Seminar Nasional Antropologi Sosial dengan tema “Islam dan Stigma Teroris” yang dilaksanakan pada Kamis (28/5) di gedung B magister Fisip USU. Pemateri seminar tersebut adalah Prof Ronald Lukens Bull Ph D seorang guru besar Antropologi dari Universitas North Florida dan Prof Usman Pelly Ph D seorang Antropolog Unimed.
Pemateri pertama seminar di buka oleh Ronal Lukens Bull. Ia mengutarakan setelah serangan 11 September 2001 seorang sosiolog Samuel Huntington mengatakan bahwa masyarakat kini mengidentifikasikan diri mereka pada keleluhuran, agama, bahasa, sejarah, nilai. Masyarakat lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok budaya (etnisitas), dan pada level yang lebih luas yaitu peradaban.
Ia mengatakan masyarakat Amerika Serikat tidak memandang semua orang Islam itu adalah teroris, tetapi hampir semua yang menjadi teroris adalah muslim. Menurutnya stigma tersebut muncul karena kurangnya mengenal satu sama lain.
“Di Amerika yang bermasalah bukan Islam, tetapi di Amerika Serikat Islam itu sedikit sehingga masyarakat disana pun tidak mengenal Islam, akhirnya stigma itu muncul akibat tidak adanya pemahaman dan pendekatan terhadap Islam,” jelasnya.
Pemateri kedua disampaikan oleh Prof Usman Pelly Ph D Antropolog Unimed. Ia menutarakan beberapa kejadian yang melahirkan terorisme internasional.
Amerika Serikat pada penghujung abad XX memenangkan Perang Dingin. Lalu Uni Soviet pecah menjadi Negara-negara etnik dan meninggalkan Rusia sebagai induknya. Setelah itu AS menjadi the sole super power atau Negara adidaya tunggal dan polisi dunia yang berkuasa penuh. Negara-negara Eropa Barat, Jepang, dan Australia merasa ikut sebagai pemenang. Sebelum perang dunia I AS dikenal sebagai polisi bajak laut, yang menggganas di laut Mediterania dan laut Hindia. Setelah Perang Dunia II menjadi Polisi Dunia untuk memerangi Teroris.Huntington (sosiolog) memperkenalkan dua musuh baru Amerika Serikat : Islam dan China. Nampaknya Amerika Serikat terdorong lebih dahulu untuk menghidupi islam, dengan menginvasi Irak dan Negara Timur Tengah lainnya sekaligus untuk menguasai minyak bumi dunia.
Awal mula permusuhan Amerika Serikat dan Islam. Amerika Serikat mulai menyingkirkan Taliban dan Al Qaida yang dipimpin oleh Osama bin Laden, sekutunya dalam perang mengusir Uni Soviet di Afganistan. Peristiwa 11 September 2001, peledakan WTC merupakan puncak perlawanan Al Qaida. Satu dekade kemudian terjadi pembunuhan Osama bin Laden yang merupakan titik balik pembalasan AS. Terorisme, jihad dan fundamentalisme Islam mencuat dari permusuhan antara Al Qaida dan Amerika Serikat.
“Ini awal stigma sosial yang diletakkan pada Islam. Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan masalah teroris Osama, tetapi kejipratan dampak steriotiping dan dituduh AS terlibat dalam jaringan teroris,” ungkapnya.
Sebutnya, Islam identik dengan kekerasan, terorisme, fundamentalisme, radikalisme, dan sebagainya. Stigmatisasi ini seakan membenarkan pandangan beberapa pemikir Barat yang berpandangan Islam sebagai ancaman pasca-runtuhnya Soviet,
“Pemboman Bali 12 Oktober 2002 setahun setelah pemboman WTC New York dan berbagai peristiwa lainnya, seakan memperkuat tuduhan bahwa Indonesia memang terkait dengan terorisme. Pemerintah menyatakan terorisme sebagai extra ordinary crimes (kejahatan kekerasan yang luar biasa) mengeluarkan Perpu No. 2/2002 dan kemudian ditingkatkan menjadi UU No. 16/2003,” jelasnya.
Usman Pelly mengatakan usaha membuat Arab Spring di desain oleh barat  agar Islam di Timur Tengah menjadi Islam yang modern.
“Benturan antara Islam dan Demokrasi Barat dapat menghasilkan konsep demokrasi baru yang tidak di dominasi oleh nilai-nilai Amerika dan nilai-nilai feodal masyarakat setempat. Selalu kita mencari cara bagaimana demokrasi terbaik di Indonesia,” jelasnya.

Doktrin dan pemahaman doktrin
Usman Pelly mengatakan orang digerakkan untuk melakukan  sesuatu bukan murni dari doktrin resmi agama, tetapi dari apa yang dipahami mereka doktrin agama itu termasuk terorisme.
“Apa yang dipahami mereka bertindak sesuai doktrin agama itu. Kita tahu kasus ibu rumah tangga yang bergabung bersama ISIS. Apa yang dipahaminya menuntutnya agar berbuat seperti itu,” jelasnya.
Untuk itu orangtua, pemerintah, masyarakat harus berusaha mengetahui pemahaman doktrin agama atau ideologi yang diterima anak atau murid/mahasiswa. Orangtua dan pemerintah berkewajiban untuk meluruskan atau menetralisir “pelencengan “ makna dari nilai-nilai doktrin agama yang dimilikinya.
”Orangtua harus mencurigai apabila remajanya menghilang dari rumah atau sekolah atau sering bolos kuliah. Agar tak dicurigai terikut Brain washing atau usaha untuk mencuci otak siapa saja,” tegasnya.
Kearifan budaya Indonesia tidak sesuai dengan teroris
Usman Pelly mengatakan teroris di Indonesia sulit berkembang bisa dilihat dari pemberontakan DI/TII tetapi juga sulit mempersatukan karena faktor lingkungan dan multikultural.
“Islam Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam adalah Islam Moderat yang menyatu dengan budaya bangsa-bangsanya. Stigma teroris sebagai label yang diberikan sementara pihak karena ingin menyudutkan kelompok Islam tertentu di Indonesia,” pungkasnya. Alisa Medina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar